Kamis, 27 Oktober 2016

Waktu yang Singkat









Waktu yang Singkat

Kau seperti air yang sangat dalam dan tak ada habisnya
Sepertinya aku telah jatuh kepadamu dan telah mati
Aku telah tertangkap dan tersapu oleh tsunami
Apakah langkah kaki kita telah terhapus oleh ombak ?

Lagu itu terus berputar dalam earphone seorang wanita cantik yang sedang membawa sebuket bunga. Dengan pakaian serba hitam wanita itu terus melangkah dengan pandangan menunduk. Langkahnya tiba-tiba berhenti saat ia melihat capung yang terbang di sekitar pandangannya. “Ah, sepertinya akan turun hujan,” ujarnya sambil melihat ke langit. Wanita itu langsung melanjutkan perjalanannya, tanah mulai menempel pada sepatunya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti lagi, lalu ia menghempaskan napasnya dan memeluk sebuket bunga yang ia bawa. Matanya mulai berair lalu ia memejamkan matanya. “Hanya sebentar, iya hanya sebentar,” ujarnya lalu menitikkan air mata. Ia langsung menghapus air matanya dan melanjutkan langkahnya.
Akhirnya ia sampai ke tempat yang dituju. Dengan tangan bergetar ia menaruh sebuket bunga di makam yang masih terlihat baru. Air matanya langsung tumpah tanpa sempat ditahan, isak tangis mulai keluar dari bibir merahnya. “Maaf aku baru bisa datang sekarang, harusnya aku mengantarkanmu,” ujarnya sambil terisak.
Angin tiba-tiba datang seakan menjawab perkataan wanita ini. Seakan mengerti wanita itu  menghapus air matanya dan mulai menenangkan diri. “Padahal kita baru aja bertemu, kenapa secepat ini kamu pergi?”, ujarnya sambil mengusap batu nisan. Kemudian wanita itu menundukkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya, ia mulai berdoa.
Setelah selesai berdoa, ia tersenyum sambil memandangi batu nisan. “Aku kangen sekali sama kakak, sekarang aku akan terus menjaga Kevin ” ujar wanita itu sambil tersenyum.  Setelah terdiam wanita itu meninggalkan makam kakaknya. Iya, kakak kandungnya yang sudah berpisah dengannya selama dua puluh tahun.
Karina Deastri, wanita cantik yang tadi mengunjungi makam kakaknya ialah seorang guru Bimbingan Konseling di SMP Permata Hati, Jakarta Barat. Di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun, ia menjadi guru termuda serta idola di kalangan siswa-siswi. Wajahnya yang cantik serta badannya yang proposional membuat dia juga terkenal di kalangan guru-guru.
Saat usia tujuh tahun ia berpisah dengan saudara kembarnya yang bernama Larissa Deastri karena kedua orang tuanya bercerai. Semejak itu, dia tidak pernah mendengar kabar apapun dari saudaranya. Namun, selang dua puluh tahun kemudian ia berhasil bertemu dengan saudara kembarnya. Sayang, pertemuan mereka begitu singkat.

Satu bulan yang lalu
Karina mendapat laporan jika ada anak baru yang berulah dihari pertamanya masuk. Sekarang ia berhadapan dengan anak baru itu. “Siapa nama kamu?” ujar Karina lembut. “ Kevin,” ujar anak tersebut dengan nada malas. Karina mencoba mencairkan suasana. “Kenapa kamu memukul teman kamu si Andi? Setahu ibu dia anak yang baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Seakan tak terima dengan perkataan Karina, Kevin langsung melotot dan membalas “Yang keliatan baik biasanya lebih busuk,” ujar Kevin dengan nada tinggi. Kaget dengan perkataan Kevin, Karina mulai menenangkan diri dan membalas “Memangnya apa perkataan dia yang mebuat kamu sakit hati?” ujarnya dengan tenang. Kevin lalu terdiam dan tak berniat menjawab ucapan gurunya.
“Kamu enggak bisa diam aja, nanti ibu gak bisa belain kamu di antara guru-guru,” ujar Karina. “ Aku enggak butuh pembelaan tuh,” ujar Kevin dengan nada jutek. “ Yasudah kalau begitu biar ibu hubungin orang tua kamu,” balas Karina. “ Enggak usah hubungin orang tua aku mereka juga gak bakalan datang, hubungin aja tante aku,“ ujar Kevin. Karina langsung memiringkan kepala, seakan mengerti Kevin berkata. “ Kalau aku ada masalah selalu tante yang nyelesaiin, orang tua aku mah enggak peduli”.
Setelah mendengar ucapan Kevin, Karina langsung menelpon tantenya dan mengizinkan Kevin untuk kembali ke kelasnya. Ttttuttt.....Ttttuuttt... Halo? Deg, badan Karina langsung merinding begitu mendengar ucapan “Halo”. Ia seakan mendengar suara yang sangat ia rindukan. Ia merasa senang dan gelisah secara bersamaan. “ Halo, ini dengan tantenya Kevin?” ujar Karina yang berusaha tenang.
Diam, mungkin tantenya Kevin juga merasakan hal yang sama. “ Iya, ini dari siapa ya?” ujar wanita tersebut dengan nada ceria.  Tanpa disadari Karina langsung tersenyum begitu mendengar suara wanita itu. “Saya Karina guru Bimbingan Konselingnya Kevin,” ujar Karina dengan nada ceria juga. “ Kevin membuat masalah ya dihari pertamanya?” tanya tantenya seakan tahu masalah yang akan dihadapi.
“Iya, dia berkelahi dengan teman sekelasnya, sepertinya salah paham karena begitu saya tanya ucapan apa dari temannya, Kevin diam saja. Jadi, kira-kira besok ibu bisa tidak bertemu dengan saya untuk membicarakan hal ini?’ jelas Karina. “ Oh, baik bu hari ini saya juga bisa bertemu dengan ibu,” ujar tante Kevin. “Baguslah jika seperti itu, ibu bisanya pukul berapa?
“Bagaimana jika sekitar pukul dua? Jadi saya sekalian menjemput Kevin,” ujar wanita tersebut. “baik bu, akan saya tunggu, ngomong-ngomong nama ibu siapa?”. “Nama saya Larissa,” dengan nada ramah. Deg, degub jantung Karina begitu cepat layaknya pelari yang habis ikut maraton. Badannya terasa lemas tetapi perasaaanya begitu senang seperti ia mendapat hadiah entah apa yang membuatnya seperti itu.
Tes, rintik hujan jatuh seakan mengingatkan Karina dari dunia nyata. “ Hah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan kejadian satu bulan yang lalu?’ ujarnya sambil tersenyum. Karina lalu mengambil payungnya dan berlari menuju mobilnya, takut hujan semakin deras. Begitu sampai mobil ia langsung mengechek handphonya. Ia langsung tersenyum melihat wallpaper handphonenya yang merupakan photo dirinya dan kakaknya Larissa.
Karina lalu menyalakan mobilnya dan lagu lawas yang biasa ia dengarkan bersama Larissa, Glenn Mederios Nothing Gonna Change My Love For You . Karina membuka kaca mobilnya dan menikmati udara yang masuk. Sambil menikmati musik dan udara di mobil, dia mengendarai mobilnya ke rumah keponakannya, Kevin.
Dengan perasaan yang tenang, kini Karina dapat menemui Kevin dan memperkenalkan dirinya sebagai saudara kembar Larissa. Karina pun dapat memenuhi janjinya kepada Larissa agar dapat menjaga Kevin.

2 komentar: