Pukul
8 pagi mahasiswa-mahasiswi Teknik Grafika Penerbitan (TGP) mulai datang untuk
kuliah. “Teteh.... Pagi Teh,” ujar mahasiswa yang lewat saat masuk ke gedung
TGP melalui pintu samping. Mereka menyapa Teteh si penjaga warung kecil dipojok
ruangan yang berada di bawah tangga. Beragam dagangan dijual di situ, seperti
minuman, alat tulis, makanan ringan, kopi, mie seduh, dan buku.
Ariyanti
atau wanita yang kerap disapa Teteh ini sudah bekerja tujuh tahun sebagai
penjaga warung kecil itu. Bekerja? Iya tidak seperti pedagang lain yang menyewa
tempat untuk berjualan. Ia bekerja atau menjadi karyawan di TGP selama tujuh
tahun. Karena ia bekerja maka barang dagangan yang ada di warung itu adalah
dari TGP tetapi terkadang dia membawa dagangan sendiri atau titipan tetangganya
sekitar sepuluh sampai dua puluh bahkan tiga puluh dagangan.
Sekitar
pukul 7 pagi berangkat ke TGP setelah menunggu adiknya yang mengantarkan
anaknya sekolah. Lalu sekitar pukul setengah delapan Teteh sampai di TGP dan
mulai membereskan dagangan agar warung segera buka.
Teteh
melayani pembeli baik mahasiswa maupun dosen atau karyawan TGP lainnya dengan
senyuman. Teteh terkenal dikalangan mahasiswa sebagai orang yang ramah dan
mudah senyum. Meskipun begitu tak ada mahasiswa yang mengutang tetapi hanya
membayar “nanti”. Seperti saat baru masuk dia membeli makanan lalu setelah
selesai kelas dia baru membayar. Selain mahasiswa, dosen pun juga begitu kadang
jika dosen lupa membayar maka besoknya baru ia bayar.
Sebagai
karyawan, jika Teteh tidak masuk maka ia izin. Jika Teteh tidak masuk ia juga
mengabari pedagang kue yang berjualan. Tidak seperti di jurusan lain yang jika
tidak masuk suka tidak memberitahu. Teteh mengatakan ia tahu rasanya sudah
berusaha untuk datang tapi ternyata tidak jadi. Maka, ia menelepon pedagang jika
dia tidak jualan.
Pukul
setengah lima sore, ia mulai menghitung uang dagangan dan menutup warung lalu
ia bersiap untuk pulang ke rumahnya di Pondok Perapatan, Kukusan Kelurahan. Rasa
cintanya yang begitu dalam kepada anaknya membuat dia rela lelah berjalan kaki
daripada naik angkutan umum demi biaya kuliah atau keperluan lain anak semata
wayangnya.
Ya, dengan gajinya yang sekitar satu juta rupiah
maka ia mencoba mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan ia dan anaknya,
yaitu jualan kue. Kadang saat di rumah ada tetangganya yang jualan kue seperti
kue kukus tetapi Teteh hanya membuat kue jika ia sedang tidak berjualan di TGP.
Saat bulan puasa Teteh membuat kue lebaran, seperti kembang goyang dan nastar,
tak hanya tetangganya yang membeli dosen TGP pun turut membeli.
Menarik! Menyikap sisi lain dari si teteh. Saya sebagai mahasiswa TGP pun baru mengetahuinya.
BalasHapusTerima kasih artikelnya.Lanjutkan!