Selasa, 11 Oktober 2016

Teteh TGP



Pukul 8 pagi mahasiswa-mahasiswi Teknik Grafika Penerbitan (TGP) mulai datang untuk kuliah. “Teteh.... Pagi Teh,” ujar mahasiswa yang lewat saat masuk ke gedung TGP melalui pintu samping. Mereka menyapa Teteh si penjaga warung kecil dipojok ruangan yang berada di bawah tangga. Beragam dagangan dijual di situ, seperti minuman, alat tulis, makanan ringan, kopi, mie seduh, dan buku. 
Ariyanti atau wanita yang kerap disapa Teteh ini sudah bekerja tujuh tahun sebagai penjaga warung kecil itu. Bekerja? Iya tidak seperti pedagang lain yang menyewa tempat untuk berjualan. Ia bekerja atau menjadi karyawan di TGP selama tujuh tahun. Karena ia bekerja maka barang dagangan yang ada di warung itu adalah dari TGP tetapi terkadang dia membawa dagangan sendiri atau titipan tetangganya sekitar sepuluh sampai dua puluh bahkan tiga puluh dagangan. 
Sekitar pukul 7 pagi berangkat ke TGP setelah menunggu adiknya yang mengantarkan anaknya sekolah. Lalu sekitar pukul setengah delapan Teteh sampai di TGP dan mulai membereskan dagangan agar warung segera buka. 
Teteh melayani pembeli baik mahasiswa maupun dosen atau karyawan TGP lainnya dengan senyuman. Teteh terkenal dikalangan mahasiswa sebagai orang yang ramah dan mudah senyum. Meskipun begitu tak ada mahasiswa yang mengutang tetapi hanya membayar “nanti”. Seperti saat baru masuk dia membeli makanan lalu setelah selesai kelas dia baru membayar. Selain mahasiswa, dosen pun juga begitu kadang jika dosen lupa membayar maka besoknya baru ia bayar. 
Sebagai karyawan, jika Teteh tidak masuk maka ia izin. Jika Teteh tidak masuk ia juga mengabari pedagang kue yang berjualan. Tidak seperti di jurusan lain yang jika tidak masuk suka tidak memberitahu. Teteh mengatakan ia tahu rasanya sudah berusaha untuk datang tapi ternyata tidak jadi. Maka, ia menelepon pedagang jika dia tidak jualan.  
Pukul setengah lima sore, ia mulai menghitung uang dagangan dan menutup warung lalu ia bersiap untuk pulang ke rumahnya di Pondok Perapatan, Kukusan Kelurahan. Rasa cintanya yang begitu dalam kepada anaknya membuat dia rela lelah berjalan kaki daripada naik angkutan umum demi biaya kuliah atau keperluan lain anak semata wayangnya.
 Ya, dengan gajinya yang sekitar satu juta rupiah maka ia mencoba mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan ia dan anaknya, yaitu jualan kue. Kadang saat di rumah ada tetangganya yang jualan kue seperti kue kukus tetapi Teteh hanya membuat kue jika ia sedang tidak berjualan di TGP. Saat bulan puasa Teteh membuat kue lebaran, seperti kembang goyang dan nastar, tak hanya tetangganya yang membeli dosen TGP pun turut membeli.

1 komentar:

  1. Menarik! Menyikap sisi lain dari si teteh. Saya sebagai mahasiswa TGP pun baru mengetahuinya.

    Terima kasih artikelnya.Lanjutkan!

    BalasHapus