Jumat, 25 Mei 2018

7 Hal Ngeselin yang Harus Kamu Abaikan



Dalam hidup ini hari-hari yang kalian jalanin pasti gak selalu sama. Ada kalanya kalian merasa senang ataupun sedih. Atau mungkin kalian merasa senang lalu tiba-tiba merasa bĂȘte karena hal-hal ngeselin. Ya, hal ngeseslin memang tidak bisa dihindari tapi bisa dilupakan atau mungkin diabaikan. Dilansir dari quora.com , inilah 7 hal ngeselin yang harus kamu abaikan.

1. Ketika Kamu Harus Duluan yang Nanya
Penah gak sih kalian kangen sama teman lama yang sudah jarang ketemu tapi gengsi buat nanya kabarnya? Mungkin kadang kamu pikir dia terlalu sibuk dan teman kamu pun berpikir sama. Tak ada salahnya menanyakan kabar kita duluan.

2. Ketika Teman Kamu Selalu Sibuk
Setiap orang pasti pernah merasa sibuk, kita tidak bisa memaksa teman untuk meluangkan waktu dengan kita. Sekarang komunikasi sudah mudah, chat dan video call tidak serumit dan semahal dulu. Tanpa ketemuan kita sudah bisa menjaga komunikasi dengan baik.

3. Ketika Ibumu Tak Berhenti Mengomel
Pernah gak sih kalian melakukan kesalahan sepele tapi ibu marahnya susah berhenti? Mungkin kita kesal karena hal tersebut. Namun, suatu saat kita tidak akan bisa mendengar omelan ibu dan kangen luar biasa dengan hal tersebut.  

4. Ketika Video Berita Gak Penting Menjadi Viral
Ihdup Yogyakarta yang rusak karena banyak anak alay  yang selfie disitu. dari judul berita yang artikel-artikel tersebut itu saja sudah membuat kesal. Biarkanlah anak alay menjadi alay sampai ia tobat sendiri.

5. Ketika Kamu Disenggol Orang Asing, Bukannya Minta Maaf Malah Sewot
Kejadian ini biasanya terjadi di tempat ramai atau di waktu-waktu sibuk. Biasanya kita merasa orang lain yang salah tapi orang lain juga berpikir kalau kita yang salah. Nah, hal kecil ini sebaiknya dibiarkan saja lalu lanjutkan aktivitas.

6. Ketika Pramuniaga Bersikap Tidak Sopan
Tidak semua pramuniaga melayani pelanggan dengan eamah dan sabar. Terkadang ada yang malas-malesan, menjawab dengan jutek dan seadanya. Saat menemui pramuniaga seperti ini cobalah positif thinking  mungkin dia lelah atau memang tidak suka dengan pekerjaannya. Toh, tujuan awal kita belanja kan.

7. Ketika Segala Hal Tak Berjalan dengan Baik
Ada kalanya kita berpikir   kok hari ini sial banget ya, atau kok hari ini orang-orang nyebelin.
Biarkanlah hal buruk berlalu dan percayalah hari esok akan lebih baik.  

Minggu, 25 Februari 2018

Playing Victim, Sikap yang Tidak Terduga

Apakah playing victim itu?

Pada dasarnya playing victim adalah sikap yang ditunjukkan sebagai orang yang paling menderita. Mereka gemar menyalahkan keadaan serta orang lain saat melakukan kesalahan tanpa mengakui kelalaian atau kesalahan sendiri. Memang pada dasarnya menyalahkan orang lain adalah salah satu sikap alami yang dilakukan manusia, seperti saat orangtua kita meminta bantuan tapi kita menyarankan agar saudara kita yang melakukan.

Orang yang selalu melakukan playing victim cenderung tidak menyadari perbuatannya, mereka berpikir bahwa mereka tidak bersalah tetapi keadaan yang salah.  Dalam kehidupan playing victim digunakan orang untuk meraih simpati dan dukungan dari orang lain. Bahkan, playing victim bisa menjadi "jembatan" seseorang dalam mencapai sesuatu atau bahkan menjadi "senjata" untuk menjatuhkan seseorang. 

Menurut Christian Maciel ada 14 tanda orang yang mengalami playing victim, yaitu:

1. Mereka Tidak  Bisa Memenuhi Tanggung Jawab

2. Kehidupan Mereka "Frozen"
Apa arti dari kata "frozen" disini? Yaitu mereka tidak membuat perubahan diri atau membuat diri mereka lebih baik. 

3. Mereka Pendendam

4. Mereka Tidak Bisa Tegas

5. Mereka Merasa Tidak Berdaya

6. Mereka Tidak Mempercayai Orang Lain

7. Mereka Tidak Tahu Kapan Berkata Cukup

8. Mereka Mudah Beragumen

9. Mereka Mengasihi Diri Sendiri

10. Mereka Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

11. Mereka Selalu Merasa Hidup Mereka Kurang

12. Mereka Sering Mengeluarkan Kritik

13. Mereka Merasa Diri Mereka Sempurna

14. Mereka Memutus Hubungan dengan Orang Lain

Itulah 14 tanda orang yang mengalami "playing victim". Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari jika termasuk sebagai playing victim karena kurang "melihat" diri kita yang sebenarnya. Mendeskripsikan orang lain sebagai playing victim memanglah mudah tetapi alangkah baiknya kita juga merefleksikan diri apakah kita juga seorang playing victim.

referensi 
https://mirnarizka.wordpress.com/2011/02/25/playing-victim/
https://www.lifehack.org/287448/14-signs-someone-always-playing-the-victim
https://en.wikipedia.org/wiki/Victim_playing

Selasa, 22 Agustus 2017

Apa Arti dari Baik?

Apakah dengan terlihat baik bisa menjamin kebaikan seseorang?
Apakah dengan terpaksa bersikap baik termasuk sikap baik?
Apakah orang baik yang diam terhitung baik?
Apakah seseorang yang ingin berbuat baik tapi takut melakukannya termasuk baik?

Sabtu, 29 Oktober 2016

Oops, Baru Lima Menit



Saat tak sengaja menjatuhkan makananmu kadang kamu langsung memakan makananmu dengan berpikir " belum lima menit " . Kadang juga ada temanmu yang berkata " Makan aja baru lima menit ini". Itu merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri.
Tetapi, di luar negeri istilahnya adalah "belum lima detik". Namun, secara ilmiah apakah makanan yang jatuhnya belum lima menit masih layak dimakan? Menurut penelitian  Clemson University, makanan yang terjatuh dapat dengan mudah tertular dengan bakteri hanya dengan hitungan detik.
Namun, menurut Dr. Femi Widya aman-aman saja memakan makanan yang sudah jatuh asalkan tempatnya bersih dan steril. Beliau juga mengatakan bakteri dan virus bisa menyebar lewat udara jadi bukan hanya karena makanan yang jatuh.
Jadi, memang tak masalah kita memakan yang baru saja jatuh, masalahnya jika makananmu jatuh di tempat kotor.

Kamis, 27 Oktober 2016

Waktu yang Singkat









Waktu yang Singkat

Kau seperti air yang sangat dalam dan tak ada habisnya
Sepertinya aku telah jatuh kepadamu dan telah mati
Aku telah tertangkap dan tersapu oleh tsunami
Apakah langkah kaki kita telah terhapus oleh ombak ?

Lagu itu terus berputar dalam earphone seorang wanita cantik yang sedang membawa sebuket bunga. Dengan pakaian serba hitam wanita itu terus melangkah dengan pandangan menunduk. Langkahnya tiba-tiba berhenti saat ia melihat capung yang terbang di sekitar pandangannya. “Ah, sepertinya akan turun hujan,” ujarnya sambil melihat ke langit. Wanita itu langsung melanjutkan perjalanannya, tanah mulai menempel pada sepatunya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti lagi, lalu ia menghempaskan napasnya dan memeluk sebuket bunga yang ia bawa. Matanya mulai berair lalu ia memejamkan matanya. “Hanya sebentar, iya hanya sebentar,” ujarnya lalu menitikkan air mata. Ia langsung menghapus air matanya dan melanjutkan langkahnya.
Akhirnya ia sampai ke tempat yang dituju. Dengan tangan bergetar ia menaruh sebuket bunga di makam yang masih terlihat baru. Air matanya langsung tumpah tanpa sempat ditahan, isak tangis mulai keluar dari bibir merahnya. “Maaf aku baru bisa datang sekarang, harusnya aku mengantarkanmu,” ujarnya sambil terisak.
Angin tiba-tiba datang seakan menjawab perkataan wanita ini. Seakan mengerti wanita itu  menghapus air matanya dan mulai menenangkan diri. “Padahal kita baru aja bertemu, kenapa secepat ini kamu pergi?”, ujarnya sambil mengusap batu nisan. Kemudian wanita itu menundukkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya, ia mulai berdoa.
Setelah selesai berdoa, ia tersenyum sambil memandangi batu nisan. “Aku kangen sekali sama kakak, sekarang aku akan terus menjaga Kevin ” ujar wanita itu sambil tersenyum.  Setelah terdiam wanita itu meninggalkan makam kakaknya. Iya, kakak kandungnya yang sudah berpisah dengannya selama dua puluh tahun.
Karina Deastri, wanita cantik yang tadi mengunjungi makam kakaknya ialah seorang guru Bimbingan Konseling di SMP Permata Hati, Jakarta Barat. Di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun, ia menjadi guru termuda serta idola di kalangan siswa-siswi. Wajahnya yang cantik serta badannya yang proposional membuat dia juga terkenal di kalangan guru-guru.
Saat usia tujuh tahun ia berpisah dengan saudara kembarnya yang bernama Larissa Deastri karena kedua orang tuanya bercerai. Semejak itu, dia tidak pernah mendengar kabar apapun dari saudaranya. Namun, selang dua puluh tahun kemudian ia berhasil bertemu dengan saudara kembarnya. Sayang, pertemuan mereka begitu singkat.

Satu bulan yang lalu
Karina mendapat laporan jika ada anak baru yang berulah dihari pertamanya masuk. Sekarang ia berhadapan dengan anak baru itu. “Siapa nama kamu?” ujar Karina lembut. “ Kevin,” ujar anak tersebut dengan nada malas. Karina mencoba mencairkan suasana. “Kenapa kamu memukul teman kamu si Andi? Setahu ibu dia anak yang baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Seakan tak terima dengan perkataan Karina, Kevin langsung melotot dan membalas “Yang keliatan baik biasanya lebih busuk,” ujar Kevin dengan nada tinggi. Kaget dengan perkataan Kevin, Karina mulai menenangkan diri dan membalas “Memangnya apa perkataan dia yang mebuat kamu sakit hati?” ujarnya dengan tenang. Kevin lalu terdiam dan tak berniat menjawab ucapan gurunya.
“Kamu enggak bisa diam aja, nanti ibu gak bisa belain kamu di antara guru-guru,” ujar Karina. “ Aku enggak butuh pembelaan tuh,” ujar Kevin dengan nada jutek. “ Yasudah kalau begitu biar ibu hubungin orang tua kamu,” balas Karina. “ Enggak usah hubungin orang tua aku mereka juga gak bakalan datang, hubungin aja tante aku,“ ujar Kevin. Karina langsung memiringkan kepala, seakan mengerti Kevin berkata. “ Kalau aku ada masalah selalu tante yang nyelesaiin, orang tua aku mah enggak peduli”.
Setelah mendengar ucapan Kevin, Karina langsung menelpon tantenya dan mengizinkan Kevin untuk kembali ke kelasnya. Ttttuttt.....Ttttuuttt... Halo? Deg, badan Karina langsung merinding begitu mendengar ucapan “Halo”. Ia seakan mendengar suara yang sangat ia rindukan. Ia merasa senang dan gelisah secara bersamaan. “ Halo, ini dengan tantenya Kevin?” ujar Karina yang berusaha tenang.
Diam, mungkin tantenya Kevin juga merasakan hal yang sama. “ Iya, ini dari siapa ya?” ujar wanita tersebut dengan nada ceria.  Tanpa disadari Karina langsung tersenyum begitu mendengar suara wanita itu. “Saya Karina guru Bimbingan Konselingnya Kevin,” ujar Karina dengan nada ceria juga. “ Kevin membuat masalah ya dihari pertamanya?” tanya tantenya seakan tahu masalah yang akan dihadapi.
“Iya, dia berkelahi dengan teman sekelasnya, sepertinya salah paham karena begitu saya tanya ucapan apa dari temannya, Kevin diam saja. Jadi, kira-kira besok ibu bisa tidak bertemu dengan saya untuk membicarakan hal ini?’ jelas Karina. “ Oh, baik bu hari ini saya juga bisa bertemu dengan ibu,” ujar tante Kevin. “Baguslah jika seperti itu, ibu bisanya pukul berapa?
“Bagaimana jika sekitar pukul dua? Jadi saya sekalian menjemput Kevin,” ujar wanita tersebut. “baik bu, akan saya tunggu, ngomong-ngomong nama ibu siapa?”. “Nama saya Larissa,” dengan nada ramah. Deg, degub jantung Karina begitu cepat layaknya pelari yang habis ikut maraton. Badannya terasa lemas tetapi perasaaanya begitu senang seperti ia mendapat hadiah entah apa yang membuatnya seperti itu.
Tes, rintik hujan jatuh seakan mengingatkan Karina dari dunia nyata. “ Hah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan kejadian satu bulan yang lalu?’ ujarnya sambil tersenyum. Karina lalu mengambil payungnya dan berlari menuju mobilnya, takut hujan semakin deras. Begitu sampai mobil ia langsung mengechek handphonya. Ia langsung tersenyum melihat wallpaper handphonenya yang merupakan photo dirinya dan kakaknya Larissa.
Karina lalu menyalakan mobilnya dan lagu lawas yang biasa ia dengarkan bersama Larissa, Glenn Mederios Nothing Gonna Change My Love For You . Karina membuka kaca mobilnya dan menikmati udara yang masuk. Sambil menikmati musik dan udara di mobil, dia mengendarai mobilnya ke rumah keponakannya, Kevin.
Dengan perasaan yang tenang, kini Karina dapat menemui Kevin dan memperkenalkan dirinya sebagai saudara kembar Larissa. Karina pun dapat memenuhi janjinya kepada Larissa agar dapat menjaga Kevin.

Selasa, 11 Oktober 2016

Teteh TGP



Pukul 8 pagi mahasiswa-mahasiswi Teknik Grafika Penerbitan (TGP) mulai datang untuk kuliah. “Teteh.... Pagi Teh,” ujar mahasiswa yang lewat saat masuk ke gedung TGP melalui pintu samping. Mereka menyapa Teteh si penjaga warung kecil dipojok ruangan yang berada di bawah tangga. Beragam dagangan dijual di situ, seperti minuman, alat tulis, makanan ringan, kopi, mie seduh, dan buku. 
Ariyanti atau wanita yang kerap disapa Teteh ini sudah bekerja tujuh tahun sebagai penjaga warung kecil itu. Bekerja? Iya tidak seperti pedagang lain yang menyewa tempat untuk berjualan. Ia bekerja atau menjadi karyawan di TGP selama tujuh tahun. Karena ia bekerja maka barang dagangan yang ada di warung itu adalah dari TGP tetapi terkadang dia membawa dagangan sendiri atau titipan tetangganya sekitar sepuluh sampai dua puluh bahkan tiga puluh dagangan. 
Sekitar pukul 7 pagi berangkat ke TGP setelah menunggu adiknya yang mengantarkan anaknya sekolah. Lalu sekitar pukul setengah delapan Teteh sampai di TGP dan mulai membereskan dagangan agar warung segera buka. 
Teteh melayani pembeli baik mahasiswa maupun dosen atau karyawan TGP lainnya dengan senyuman. Teteh terkenal dikalangan mahasiswa sebagai orang yang ramah dan mudah senyum. Meskipun begitu tak ada mahasiswa yang mengutang tetapi hanya membayar “nanti”. Seperti saat baru masuk dia membeli makanan lalu setelah selesai kelas dia baru membayar. Selain mahasiswa, dosen pun juga begitu kadang jika dosen lupa membayar maka besoknya baru ia bayar. 
Sebagai karyawan, jika Teteh tidak masuk maka ia izin. Jika Teteh tidak masuk ia juga mengabari pedagang kue yang berjualan. Tidak seperti di jurusan lain yang jika tidak masuk suka tidak memberitahu. Teteh mengatakan ia tahu rasanya sudah berusaha untuk datang tapi ternyata tidak jadi. Maka, ia menelepon pedagang jika dia tidak jualan.  
Pukul setengah lima sore, ia mulai menghitung uang dagangan dan menutup warung lalu ia bersiap untuk pulang ke rumahnya di Pondok Perapatan, Kukusan Kelurahan. Rasa cintanya yang begitu dalam kepada anaknya membuat dia rela lelah berjalan kaki daripada naik angkutan umum demi biaya kuliah atau keperluan lain anak semata wayangnya.
 Ya, dengan gajinya yang sekitar satu juta rupiah maka ia mencoba mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan ia dan anaknya, yaitu jualan kue. Kadang saat di rumah ada tetangganya yang jualan kue seperti kue kukus tetapi Teteh hanya membuat kue jika ia sedang tidak berjualan di TGP. Saat bulan puasa Teteh membuat kue lebaran, seperti kembang goyang dan nastar, tak hanya tetangganya yang membeli dosen TGP pun turut membeli.

Senin, 19 September 2016

Andai Aku Wartawan Online

Wartawan, satu pekerjaan yang tak pernah terpikirkan akan aku jalani. Jangankan itu, bekerja dibidang jurnalistik saja tak pernah terlintas dipikiranku. Namun, takdir seakan menuntunku untuk masuk ke dunia jurnalistik.
Awalnya aku berpikir menjadi wartawan adalah pekerjaan mudah karena aku dulu mendengar ungkapan " Semua Bisa Jadi Jurnalis ". Akan tetapi, setelah mendalami dunia jurnalistik dalam dunia perkuliahanku di Politeknik Negeri Jakarta, beban menjadi jurnalis yang sesungguhnya tidaklah ringan.
Seiring berkembangnya zaman, jurnalistik kini memiliki ruang lingkup baru, yaitu jurnalistik daring atau jurnalistik online. Menurut Asep Syamsul M. Romli, jurnalistik online adalah proses pengumpulan, penulisan, penyuntingan, dan penyebarluasan berita secara online. 
Jurnalistik online juga memiliki konsep “ Jurnalisme Warga”  yang menggunakan sosial media oleh berbagai lapisan masyarakat. Aku pun menggunakan media sosial  seperti Instagram, tetapi aku bukanlah orang yang aktif di sosial media. Jadi, aku selalu berpikir bagaimana aku bisa menjadi wartawan online?
Meski ragu, kini perlahan-lahan aku mulai percaya diri menjadi wartawan online karena ilmu yang aku pelajari di kampus semakin meningkat. Dan kini aku mulai menghilangkan kata “ Andai “ sehingga kata yang selalu aku ingat adalah “ Aku wartawan online”.

Referensi
http://www.komunikasipraktis.com/2016/01/pengertian-jurnalistik-online.html